Sujud Sahwi: Pengertian, Hukum, dan Tata Caranya

Sebagai manusia, tentunya kita tidak luput dari alpa dan lupa. Demikian juga halnya dalam beribadah. Salah satu ibadah yang sangat penting adalah shalat. Lalu, bagaimana kalau kita lupa ketika shalat?

Saat ini kita akan membahas pembahasan menarik mengenai sujud sahwi, sujud karena lupa. Kami akan sajikan dengan sederhana supaya lebih memahamkan pembaca sekalian.  Semoga bermanfaat.

Definisi Sujud Sahwi

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai. Sujud sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat untuk menutupi cacat dalam shalat karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja.

Pensyariatan Sujud Sahwi

Para ulama madzhab sepakat mengenai disyariatkannya sujud sahwi. Di antara dalil yang menunjukkan pensyariatannya adalah hadits-hadits berikut ini. Hadits-hadits ini pun nantinya akan dijadikan landasan dalam pembahasan sujud sahwi selanjutnya.
Baca lebih lanjut

Iklan

Menahan Pandangan (Gadh-dhul Bashar)

Secara bahasa, غَضُّ البَصَرِ (gadh-dhul bashar) berarti menahan, mengurangi atau Menundukkan Pandangan [1].

Menahan pandangan bukan berarti menutup atau memejamkan mata hingga tidak melihat sama sekali atau menundukkan kepala ke tanah saja, karena bukan ini yang dimaksudkan di samping tidak akan mampu dilaksanakan.

Tetapi yang dimaksud adalah menjaganya dan tidak melepas kendalinya hingga menjadi liar. Pandangan yang terpelihara adalah apabila seseorang memandang sesuatu yang bukan aurat orang lain lalu ia tidak mengamat-amati kecantikan/kegantengannya, tidak berlama-lama memandangnya, dan tidak memelototi apa yang dilihatnya [2].

Dengan kata lain menahan dari apa yang diharamkan oleh Allah swt dan rasul-Nya untuk kita memandangnya [3].
Baca lebih lanjut

Kejayaan Islam: Antara Sunnatullah dan Syari’atullah

Oleh: DR Amir Faishol

Dalam sebuah pengajian di Masjid Konjen RI  di Los Angeles, seseorang bertanya mengenai beberapa negara yang tadinya lemah, tetapi karena kerja keras mereka kini menjadi bangkit, seperti Korea Selatan dan Jepang. Padahal mereka dalam pengelolaan sistem bernegara tidak pernah mengatasnamakan syariah. Demikian juga negara-negara maju lainnya di Eropa maupun di Amerika. Sementara umat Islam hanya berteriak syariah, tetapi mereka belum bangkit-bangkit.

Di manakah yang salah?

Memang pertanyaan seperti ini kerap kali muncul. Kalau tidak diimbangi dengan keimanan yang kuat dan pemahaman yang luas, bisa saja seseorang salah paham, lalu tiba-tiba ia keluar dari Islam. Sebab pada kenyataannya, banyak negara umat Islam yang tidak berdaya dan tidak berwibawa. Bahkan mereka tidak sanggup menyelesaikan persoalan mereka sendiri secara internal. Lalu bagaimana cara menjawab pertanyaan seperti ini?
Baca lebih lanjut

Ziarah Kubur yang Jauh Dari Tuntunan Islam

Saat ini, mungkin Anda sering melihat orang-orang yang berziarah ke kubur orang-orang alim, yang dianggap wali, yang disebut juga makam keramat. Mereka berzikir, berdo’a, bershalawat dan membuat kuburan tersebut jadi “hingar bingar” dengan suara mereka, bahkan hingga di malam hari, pada saat orang lain mulai tidur. Apakah ziarah yang seperti itu dibenarkan dalam syariat Islam?

Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni rahimahullah ditanya mengenai ziarah kubur yang disyariatkan. Beliau menjawab,

Perlu diketahui bahwa ziarah kubur ada dua bentuk: ziarah kubur yang disyariatkan dan ziarah kubur yang jauh dari tuntunan Islam.
Baca lebih lanjut

Memahami Syariah yang Sebenarnya

Ketika kata syariah diperdengarkan apa reaksi Anda? Ada sebagian orang memandangnya sebagai aturan yang ditaati tanpa syarat dan harus diperjuangkan, namun sebagian lagi mungkin memandangnya sebagai aturan yang sudah kuno dan melanggar HAM. Dalam hal ini, masih banyak lagi reaksi yang berbeda jika kata syariah dilontarkan.

Kata syari’ah disebutkan dalam surah Al-Maidah: 48, Allah swt. berfirman: ”Likullin ja’alnaa minkum syir’atan wa minhaajaa (untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang.)” Berdasarkan redaksi ayat, nampak bahwa kata syari’ah atau syir’ah artinya aturan.

Namun dalam Islam, secara definitif, kata syari’ah identik dengan aturan dari Allah swt. Dengan kata lain mengikuti syari’ah artinya mengikuti aturan Allah yang telah ditetapkan untuk kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat. Dari sini kita mendapatkan pelajaran bahwa Allah swt. sebagai pemilik langit dan bumi sebenarnya telah meletakkan aturan hidup untuk manusia. Dan bisa dipastikan bahwa aturan-Nya jauh lebih sempurna dari pada aturan yang dikarang oleh manusia. Sebab Allah Maha Mengetahui sementara otak manusia sangat terbatas kemampuannya. Maka tidak mungkin manusia menandingi Allah dalam segala hal, apa lagi independen dari-Nya.
Baca lebih lanjut

Empat Amal yang Sulit Dilakukan

“Sesungguhnya, amal perbuatan yang paling sulit dilakukan ada empat macam.
Pertama, memberi maaf ketika sedang marah.
Kedua, dermawan ketika kita sendiri sangat membutuhkan.
Ketiga, menjaga kehormatan diri di saat sedang sendiri.
Dan keempat, berkata benar kepada orang yang ditakuti (pemimpin) atau orang yang diharapkan (bantuannya).”
(Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu)

Syariat Islam: Tujuan & Keistimewaannya

Ketika mendengar kata syariat Islam, apa yang terlintas di dalam benak anda? Potong tangan dan rajam? Ataukah kasih sayang dan keadilan Allah terhadap makhluk ciptaan-Nya? Jawaban itu kembali kepada tingkat keimanan kita. Seberapa tinggi tingkat keimanan kita tentunya sejalan juga dengan tingkat pemahaman kita terhadap hukum Allah tersebut.

Pengertian Syariat Islam

Syari’at, bisa disebut syir’ah, artinya secara bahasa adalah sumber air mengalir yang didatangi manusia atau binatang untuk minum. Perkataan “syara’a fiil maa’i” artinya datang ke sumber air mengalir atau datang pada syari’ah. Kemudian kata tersebut digunakan untuk pengertian hukum-hukum Allah yang diturunkan untuk manusia.

Kata “syara’a” berarti memakai syari’at. Juga kata “syara’a” atau “istara’a” berarti membentuk syari’at atau hukum. Dalam hal ini Allah berfirman, “Untuk setiap umat di antara kamu (umat Nabi Muhammad dan umat-umat sebelumnya) Kami jadikan peraturan (syari’at) dan jalan yang terang.” [QS. Al-Maidah (5): 48]

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) tentang urusan itu (agama), maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang yang tidak mengetahui.” [QS. Al-Maidah (5): 18].

“Allah telah mensyari’atkan (mengatur) bagi kamu tentang agama sebagaimana apa yang telah diwariskan kepada Nuh.” [QS. Asy-Syuuraa (42): 13].
Baca lebih lanjut