Monthly Archives: Oktober 2009

Di Balik Fenomena Facebook

facebookKetika perpecahan keluarga menjadi tontonan yang ditunggu dalam sebuah episode infotainment setiap hari.  Ketika aib seseorang ditunggu-tunggu ribuan mata bahkan jutaan dalam berita-berita media massa. Ketika seorang selebritis dengan bangga menjadikan kehamilannya di luar pernikahan yang sah sebagai ajang sensasi yang ditunggu-tunggu …’siapa calon bapak si jabang bayi?’  Ada khabar yang lebih menghebohkan, lagi-lagi seorang selebritis yang belum resmi berpisah dengan suaminya, tanpa rasa malu berlibur, berjalan bersama pria lain, dan dengan mudahnya mengolok-olok suaminya.  Wuiih…mungkin kita bisa berkata, “ya wajarlah artis, kehidupannya ya seperti itu, penuh sensasi. Kalau perlu dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh publik.”

Wuiiih…ternyata sekarang bukan hanya artis yang bisa seperti itu, sadar atau tidak, ribuan orang sekarang sedang menikmati aktivitasnya apapun diketahui orang, dikomentarin orang bahkan mohon maaf …’dilecehkan’ orang, dan herannya perasaan yang didapat adalah kesenangan.

Fenomena itu bernama facebook…

Baca lebih lanjut

Iklan

Antara Mahabbah Syaithoniyyah dan Mahabbah Imaniyyah

Mahabbah syaithoniyyah (cinta yang didorong oleh nafsu setan) terjadi jika hubungan yang terjalin antara dua insan berjalan tidak wajar dan membawanya dalam kondisi yang serba tidak menentu, khawatir dan lemah, sehingga ketika dalam shalat pun ia masih mengingat dan merasakan kehadirannya. Ia tidak suka apabila sahabatnya berkenalan dengan orang lain atau bergaul dengan orang lain, benci dengan setiap orang yang mau menjalin hubungan dengannya.

Model cinta seperti ini bukanlah cinta imani, melainkan cinta syaithoni yang lebih mendekati al ‘isyq (cinta buta) yang dibangun di atas keakraban belaka, penampilan luar, paras muka dan semisalnya. Cinta semacam ini justru akan menjerumuskan ke dalam kenistaan, permusuhan, dan sikap saling menjauhi.

Walaupun ukhuwwah begitu penting dan mengandung berbagai kebaikan, namun Islam senantiasa menganjurkan untuk memposisikan segala seuatu dalam kerangka yang proporsional. Sikap berlebihan (ekstrim) tidak dapat diterima dalam bentuk apa pun. Ia merupakan sikap abnormal dan dapat menjerumuskan ke dalam kenistaan dan kelalaian.
Baca lebih lanjut

Wudhu

Oleh: Imam al-Ghazali

wudhuKetahuilah, berwudhu termasuk faktor kunci dalam kekhusyukan shalat. Allah SWT Maha Memperhatikan siapa pun yang berwudhu. Walaupun tampak hanya membasuh sebagian tubuh bagian luar dengan air atau kadang hanya bertayamum dengan debu, namun makna penting dari semua itu adalah wudhu harus menjadi bagian pembersih jiwa karena memang di antara hikmah lain dari wudhu adalah menggugurkan dosa-dosa kecil.

Oleh karena itu, iringi tetesan air yang jatuh dengan istighfar di hati, insya Allah saat berwudhu sudah menjadi saat yang menentramkan jiwa. Dampaknya, wudhu yang baik akan membuat mental kita menjadi lebih siap untuk bersujud kepada Allah.
Baca lebih lanjut

Tahapan Amal Dakwah

Oleh: Mappesangka

islamic civilizationIslam adalah agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin). Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan peran penting muslim sebagai khalifah di muka bumi ini. Muslim adalah orang-orang terbaik yang ada di dunia ini, yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Oleh karenanya, peran dakwah sangat diperlukan. Dakwah memerlukan pengorbanan, baik berupa pikiran, materi, waktu, bahkan sampai jiwa. Dalam kehidupan, seorang muslim dituntut untuk terus berdakwah hingga akhir hayatnya. Ada beberapa tahapan amal dakwah yang harus menjadi cita-cita yang menggelorakan jiwa (thumuhat) sebagai seorang muslim, yaitu:
Baca lebih lanjut

Agar Tidak Berguguran di Jalan Dakwah

FuturRasulullah SAW mengumumkan perang Tabuk secara terbuka sehingga tidak ada alasan sesorang sahabat pun untuk tidak mengetahui. Ka’ab bin Malik dalam keadaan sehat fisik dan berkecukupan, belum pernah ia mempunyai dua tunggangan, kecuali pada masa menjelang perang Tabuk itu.

Ia termasuk salah seorang sahabat yang terhormat karena menjadi peserta bai’ah Aqabah kedua. Saat menjelang perang Tabuk, pohon-pohon berbuah dan kebun sedang menjelang panen. Ka’ab berkata, ”Saya lebih cenderung kepada kegiatan memanen kebun itu.” Sebenarnya, ia berkali-kali hendak melakukan persiapan berangkat, akan tetapi selalu ia batalkan sendiri. Oleh karenanya, perang Tabuk berlangsung tanpa kehadiran Ka’ab bin Malik.
Baca lebih lanjut

6 Resep Mengatasi Kesedihan

Oleh: DR Aidh Abdullah al-Qarni

A-Moslem-TeachingPenulis buku Al-Farj Ba’da al-Syiddah menyebutkan bahwa seorang bijak bestari sedang ditimpa musibah. Maka datanglah teman-temannya mengucapkan keprihatinan mereka terhadap musibah yang menimpanya. Si bijak itu pun berkata, “Aku tahu ada satu obat yang terbuat dari 6 resep berbeda.” Teman-temannya pun bertanya, “Apa saja itu?”
Baca lebih lanjut

Memposisikan Bid’ah dalam Kehidupan Beragama

Oleh: Ahmad Bisyri Syakur. Lc, M.A.

kissing quran bidah edKata “bid’ah” telah menjadi kalimat yang sensitif di tengah masyarakat muslim di belahan dunia mana pun. Kalimat itu mampu membuat seseorang bertengkar hebat dengan saudara kandungnya, mampu menceraikan istri dari suaminya, mampu memisahkan anak dari orang tuanya, bahkan yang paling menyeramkan bahwa kata bid’ah mampu menciptakan kerusuhan massal antara sesama muslim. Adanya bahasan ini tentunya bukan tanpa sebab, keprihatinan penulis akan efek negatif dari salah penempatan kalimat itu menjadi salah satu sebabnya, begitu juga sedikitnya bahasan spesifik tentang bid’ah memerlukan tambahan signifikan. Pembicaraan ilmiah tentang bid’ah tampaknya lebih perlu dikedepankan daripada bincang-bincang emosionil. Begitu juga saling klaim bid’ah antar kelompok masyarakat Islam hendaknya segera diminimalisir.

Oleh karena itu, mari kita buka mata, telinga, pikiran, dan hati kita untuk mengkaji tema bid’ah ini agar segala kekeruhan yang telah terjadi dapat kita jernihkan, kebekuan antara kelompok Islam dapat kita cairkan untuk memenangkan kalimat Allah di hadapan segala bentuk kekafiran dan kebatilan.

Pengertian Bid’ah

Bid’ah adalah kosa kata arab yang berarti menciptakan sesuatu tanpa contoh sebelumnya. Sebagaimana Allah SWT menamakan dirinya dengan al-mubdi’ yaitu yang menciptakan tanpa contoh sebelumnya. Sedangkan bid’ah dalam pengertian ulama Islam (terminologi) adalah lawan dari pada sunnah seperti dalam hadist yang diriwayatkan dari al-irbadh bin sariyah dan dikeluarkan oleh Abu Daud, Tirmizi,Ibnu Majah dan Ibnu Hibban,  “alaikum bisunnatii…wa iyyakum wa muhdatsatil umuri fa inna kulla muhdatsatin bid’ah wa kullu bid’atin dolalah.”  Artinya memahami bid’ah harus didahului dengan pemahaman tentang sunnah Nabi SAW. Para ulama telah mendefinisikan sunnah dalam tiga hal, yaitu perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi SAW.

Dari pengertian tersebut dapat kita simpulkan bahwa bid’ah adalah segala ibadah yang tidak pernah ada legalitas Allah dan rasul-Nya, baik dalam bentuk verbal, perbuatan, atau persetujuan. Begitu juga Imam As-Syatiby telah memberikan definisi bid’ah dalam kitab al-muwafaqat dan al-I’tisom: sebuah tata cara (thariqah) dalam lingkup agama/dien yang diciptakan menyerupai tata cara yang legal dalam syariah dengan maksud menambah nilai ibadah kepada Allah ta’ala. Artinya ibadah bid’ah seperti uang palsu, bentuk sama namun tidak ada legalitasnya. Sedangkan syekh Muhammad al-Ghazali mendefinisikan dalam kitab Kunuz minas-sunnah: menciptakan sesuatu ibadah dari diri sendiri lalu menyatakannya sebagai ciptaan syariah dan jalan yang lurus. Artinya peribadatan yang ditawarkan kepada masyarakat hendaknya dicari lebih dahulu penjelasannya dari syariat dan jika tidak ditemukan maka ibadah itu adalah kreasi penemunya saja dan bukan dari syariat, inilah bid’ah sebenarnya.

Ketiga pendefinisian di atas telah memberikan kejelasan kepada kita hal-hal berikut:
Baca lebih lanjut