Category Archives: Dakwah

Memahami Syariah yang Sebenarnya

Ketika kata syariah diperdengarkan apa reaksi Anda? Ada sebagian orang memandangnya sebagai aturan yang ditaati tanpa syarat dan harus diperjuangkan, namun sebagian lagi mungkin memandangnya sebagai aturan yang sudah kuno dan melanggar HAM. Dalam hal ini, masih banyak lagi reaksi yang berbeda jika kata syariah dilontarkan.

Kata syari’ah disebutkan dalam surah Al-Maidah: 48, Allah swt. berfirman: ”Likullin ja’alnaa minkum syir’atan wa minhaajaa (untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang.)” Berdasarkan redaksi ayat, nampak bahwa kata syari’ah atau syir’ah artinya aturan.

Namun dalam Islam, secara definitif, kata syari’ah identik dengan aturan dari Allah swt. Dengan kata lain mengikuti syari’ah artinya mengikuti aturan Allah yang telah ditetapkan untuk kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat. Dari sini kita mendapatkan pelajaran bahwa Allah swt. sebagai pemilik langit dan bumi sebenarnya telah meletakkan aturan hidup untuk manusia. Dan bisa dipastikan bahwa aturan-Nya jauh lebih sempurna dari pada aturan yang dikarang oleh manusia. Sebab Allah Maha Mengetahui sementara otak manusia sangat terbatas kemampuannya. Maka tidak mungkin manusia menandingi Allah dalam segala hal, apa lagi independen dari-Nya.
Baca lebih lanjut

Syariat Islam: Tujuan & Keistimewaannya

Ketika mendengar kata syariat Islam, apa yang terlintas di dalam benak anda? Potong tangan dan rajam? Ataukah kasih sayang dan keadilan Allah terhadap makhluk ciptaan-Nya? Jawaban itu kembali kepada tingkat keimanan kita. Seberapa tinggi tingkat keimanan kita tentunya sejalan juga dengan tingkat pemahaman kita terhadap hukum Allah tersebut.

Pengertian Syariat Islam

Syari’at, bisa disebut syir’ah, artinya secara bahasa adalah sumber air mengalir yang didatangi manusia atau binatang untuk minum. Perkataan “syara’a fiil maa’i” artinya datang ke sumber air mengalir atau datang pada syari’ah. Kemudian kata tersebut digunakan untuk pengertian hukum-hukum Allah yang diturunkan untuk manusia.

Kata “syara’a” berarti memakai syari’at. Juga kata “syara’a” atau “istara’a” berarti membentuk syari’at atau hukum. Dalam hal ini Allah berfirman, “Untuk setiap umat di antara kamu (umat Nabi Muhammad dan umat-umat sebelumnya) Kami jadikan peraturan (syari’at) dan jalan yang terang.” [QS. Al-Maidah (5): 48]

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) tentang urusan itu (agama), maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang yang tidak mengetahui.” [QS. Al-Maidah (5): 18].

“Allah telah mensyari’atkan (mengatur) bagi kamu tentang agama sebagaimana apa yang telah diwariskan kepada Nuh.” [QS. Asy-Syuuraa (42): 13].
Baca lebih lanjut

Memahami Makna Hijrah & Relevansinya Saat Ini

“Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa: 100)

Waktu demi waktu telah kita lalui, banyak kisah yang telah terlewatkan, namun sedikit di antara kita yang menyadari atau mengerti akan esensi yang terkandung dalam sejarah yang pernah dilalui, padahal Allah tidak menjadikan suatu peristiwa dengan sia-sia. Ada ibrah (pelajaran) yang patut diambil dan diingat untuk dijadikan barometer terhadap kehidupan yang akan dijelang. “Sesungguhnya dalam kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf: 111)

Banyak sejarah dan peristiwa yang telah digoreskan oleh nabi Muhammad saw. Di antara goresan sejarah yang sangat monumental dalam perjalanan hidup Rasulullah saw adalah peristiwa hijrah Rasulullah saw dan sahabatnya dari kota Mekkah ke kota Madinah. Dalam peristiwa tersebut tampak sosok manusia yang begitu kokoh dalam memegang prinsip yang diyakini, tegar dalam mempertahankan aqidah, dan gigih dalam memperjuangkan kebenaran. Sehingga sejarah pun dengan bangga menorehkan tinta emasnya untuk mengenang sejarah tersebut agar dapat dijadikan tolok ukur dalam pembangunan masyarakat madani dan rabbani, tegak di atas kebaikan, tegas terhadap kekufuran dan lemah lembut terhadap sesama muslim.
Baca lebih lanjut

Buktikan Qurbanmu, Kawan…

Oleh: Andy

Saat Nabi Ibrahim AS mendapat perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail, ia seakan tidak percaya. Putra satu-satunya, pewaris generasi yang sudah lama ia nantikan kehadirannya tiba-tiba saja harus diambil oleh “Pemiliknya”. Berhari-hari ia memikirkan perintah yang didapat dari mimpinya itu. Dan setiap harinya, mimpi itu tidak pernah alpa mendatanginya. Hingga akhirnya perintah tersebut disampaikan kepada anak kesayangannya.

Namun jawaban sang anak sangat mengejutkan. Ia meng-iya-kan perintah tersebut, tanpa membantah sedikitpun. “Kalau memang sudah perintah Allah maka laksanakan saja” begitu kira-kira ucapan Nabi Ismail AS kepada ayahnya. Kisah ini kemudian berakhir bahagia, Ismail tidak jadi disembelih, digantikan hewan qurban.

Kisah tersebut mengilhami ritual pelaksanaan perayaan Idul Adha dari masa ke masa. Kalau dulu, Nabi Ibrahim AS di uji pengorbanannya dengan anak yang paling disayanginya, kini kita diuji dengan harta kita. Allah SWT ingin melihat sejauh mana kita mencintai harta, yang dengan susah payah didapatkan. Ia ingin melihat apakah kecintaan kita terhadap harta mengalahkan cinta kita kepadaNYA. Apakah uang kita habiskan dengan membeli seekor kambing atau sapi, ataukah membeli kemewahan dunia yang tiada habisnya.
Baca lebih lanjut

Tahapan Amal Dakwah

Oleh: Mappesangka

islamic civilizationIslam adalah agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin). Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan peran penting muslim sebagai khalifah di muka bumi ini. Muslim adalah orang-orang terbaik yang ada di dunia ini, yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Oleh karenanya, peran dakwah sangat diperlukan. Dakwah memerlukan pengorbanan, baik berupa pikiran, materi, waktu, bahkan sampai jiwa. Dalam kehidupan, seorang muslim dituntut untuk terus berdakwah hingga akhir hayatnya. Ada beberapa tahapan amal dakwah yang harus menjadi cita-cita yang menggelorakan jiwa (thumuhat) sebagai seorang muslim, yaitu:
Baca lebih lanjut

Agar Tidak Berguguran di Jalan Dakwah

FuturRasulullah SAW mengumumkan perang Tabuk secara terbuka sehingga tidak ada alasan sesorang sahabat pun untuk tidak mengetahui. Ka’ab bin Malik dalam keadaan sehat fisik dan berkecukupan, belum pernah ia mempunyai dua tunggangan, kecuali pada masa menjelang perang Tabuk itu.

Ia termasuk salah seorang sahabat yang terhormat karena menjadi peserta bai’ah Aqabah kedua. Saat menjelang perang Tabuk, pohon-pohon berbuah dan kebun sedang menjelang panen. Ka’ab berkata, ”Saya lebih cenderung kepada kegiatan memanen kebun itu.” Sebenarnya, ia berkali-kali hendak melakukan persiapan berangkat, akan tetapi selalu ia batalkan sendiri. Oleh karenanya, perang Tabuk berlangsung tanpa kehadiran Ka’ab bin Malik.
Baca lebih lanjut

Mengenal 10 Karakter Pribadi Muslim

muslimmanKetika berbicara mengenai kepribadian muslim, apa yang langsung terlintas atau terbayang di benak kita? Mungkin ada yang menjawab bahwa kepribadian muslim itu tercermin pada orang yang rajin menjalankan ibadah dari aspek ritual seperti shalat. Ada yang mengatakan kepribadian muslim itu terlihat dari sikap dermawan dan suka menolong orang lain atau aspek sosial lainnya. Mungkin juga ada yang berpendapat kepribadian muslim itu terlihat dari penampilan seseorang yang kalem dan baik hati.

Jawaban di atas hanyalah satu aspek dari banyak aspek lain yang melekat pada pribadi seorang muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang saleh, yaitu pribadi yang sikap, ucapan, dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah SWT. Persepsi (gambaran) masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah. Padahal itu hanyalah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim.

Oleh karena itu,  standar pribadi muslim yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan sehingga dapat menjadi acuan bagi pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Bila disederhanakan, setidaknya ada 10 karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi muslim, yaitu:
Baca lebih lanjut